Ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri Menurut Para Ulama dan Hakekat Maknanya

Ucapan Selamat Hari Raya

http://biayaumroh.org/

Apa yang mesti kita ucapkan ketika bertemu saudara kita di hari raya Idul Fitri? Adakah ucapan terbaik yang bisa kita ucapkan dari lisan kita agar hari raya Fitri lebih bermakna?

Perlu diketahui bahwa telah terdapat berbagai riwayat dari beberapa sahabat radhiyallahu ‘anhum bahwa mereka biasa mengucapkan selamat di hari raya di antara mereka dengan ucapan “Taqobbalallahu minna wa minkum” (Semoga Allah menerima amalku dan amal kalian).

Ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri

Ucapan selamat hari raya Idul Fitri terbaik adalah doa, dan ajakan untuk saling kembali menuju Allah Swt. Sebagai mana penjelasan dalam riwayat berikut ini.

فعن جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ قَالَ : كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اِلْتَقَوْا يَوْمَ الْعِيدِ يَقُولُ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ : تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْك . قال الحافظ : إسناده حسن .

Dari Jubair bin Nufair, ia berkata bahwa jika para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berjumpa dengan hari ‘ied (Idul Fitri atau Idul Adha, ), satu sama lain saling mengucapkan, “Taqobbalallahu minna wa minka (Semoga Allah menerima amalku dan amal kalian).”

Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan bahwa sanad hadits diatas ini hasan. (Lihat di Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Asqolani, Darul Ma’rifah, 1379, 2/446. Syaikh Al Albani dalam Tamamul Minnah (354))

Jika hari raya Idul Fitri tiba, ucapkanlah “Taqobbalallahu minna wa minkum“, yang artinya “semoga Allah menerima amalku dan amal kamu.”

Kemudian menurut riwayat ucapan ini diberikan tambahkan oleh para sahabat dengan kata-kata “Shiyamana wa shiyamakum“, yang artinya puasaku dan puasamu.

Dengan demikian secara lengkap kalimat tersebut menjadi “Taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum” yang artinnya “semoga Allah menerima amalanku dan kamu, amalan puasaku dan kamu“.

Ucapan Selamat Hari Raya Menurut Para Ulama

Ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri

https://pixabay.com

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah ditanya, “Apa hukum mengucapkan selamat hari raya? Lalu adakah ucapan tertentu kala itu?”

Beliau rahimahullah menjawab, “Ucapan selamat ketika hari raya ‘ied dibolehkan. Tidak ada ucapan tertentu saat itu. Apa yang biasa diucapkan manusia dibolehkan selama di dalamnya tidak mengandung kesalahan (dosa).”[4]

Memberikan ucapan selamat Hari Raya Idul Fitri kepada saudara muslimin hukumnya adalah mubah, tidak ada larangan dengan ini dan jika ucapan salam dan selamat itu saling diucapkan sesama kaum muslim akan bisa menjalin mempererat hubungan kekerbatan dan juga silaturahim sesama muslimin.

Seperti halnya yang telah menjadi tradisi oleh masyarakat Indonesia, budaya yang indah yang biasa kita menyebutnya halal bihalal. Segala sesuatu yang mubah melahirkan kemaslahatan adalah sesuatu yang baik dan kita tidak boleh memakruhkan ataupun mengharamkannya.

Menurut para Ulama’ Sayifi’yah, dikutip dari penjelasan Syekh Jalaluddin As-Suyuthi dalam kumpulan fatwanya perihal pengucapan “Selamat hari raya Idul Fitri atau Idul Adha”, “Selamat bulan baru”, atau “Selamat tahun baru”.

Fatwa Syekh Jalaludin As-Suyuthi  “Al-Qamuli dalam Al-Jawahir mengatakan, ‘Aku tidak menemukan banyak pendapat kawan-kawan dari Madzhab Syafi’i ini perihal ucapan selamat hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, ucapan selamat pergantian tahun dan pergantian bulan seperti yang dilakukan oleh banyak orang sekarang. –

Hanya saja aku dapat riwayat yang dikutip dari Syekh Zakiyuddin Abdul Azhim Al-Mundziri bahwa Al-Hafizh Abul Hasan Al-Maqdisi pernah ditanya perihal ucapan selamat bulan baru atau selamat tahun baru. –

Apakah hukumnya bid’ah atau tidak? Ia menjawab, banyak orang selalu berbeda pandangan masalah ini. Tetapi bagi saya, ucapan selamat seperti itu mubah, bukan sunah dan juga bukan bid’ah.’ -Pendapat ini dikutip tanpa penambahan keterangan oleh Syaraf Al-Ghazzi dalam Syarhul Minhaj,”

(Lihat Jalaluddin As-Suyuthi, Al-Hawi Lil Fatawi fil Fiqh wa Ulumit Tafsir wal hadits wal Ushul wan Nahwi wal I‘rabi wa Sa’iril Funun, Darul Kutub Ilmiyah, Beirut, Libanon, 1982 M/1402 H, juz 1, halaman 83).

Ucapan Selamat Hari Raya menurut Imam Ahmad rahimahullah

Imam Ahmad rahimahullah berkata,

وَلَا بَأْسَ أَنْ يَقُولَ الرَّجُل لِلرَّجُلِ يَوْمَ الْعِيدِ : تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْك

Tidak mengapa (artinya: boleh-boleh saja) satu sama lain di hari raya ‘ied mengucapkan: Taqobbalallahu minna wa minka”.

وَقَالَ حَرْبٌ : سُئِلَ أَحْمَدُ عَنْ قَوْلِ النَّاسِ فِي الْعِيدَيْنِ تَقَبَّلَ اللَّهُ وَمِنْكُمْ .قَالَ : لَا بَأْسَ بِهِ ، يَرْوِيه أَهْلُ الشَّامِ عَنْ أَبِي أُمَامَةَ قِيلَ : وَوَاثِلَةَ بْنِ الْأَسْقَعِ ؟ قَالَ : نَعَمْ .قِيلَ : فَلَا تُكْرَهُ أَنْ يُقَالَ هَذَا يَوْمَ الْعِيدِ .قَالَ : لَا .

Salah seorang ulama, Harb mengatakan, “Imam Ahmad pernah ditanya mengenai apa yang mesti diucapkan di hari raya ‘ied (‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha), apakah dengan ucapan, ‘Taqobbalallahu minna wa minkum’?” Imam Ahmad menjawab, “Tidak mengapa mengucapkan seperti itu.” Kisah tadi diriwayatkan oleh penduduk Syam dari Abu Umamah.

Ada pula yang mengatakan, “Apakah Watsilah bin Al Asqo’ juga berpendapat demikian?” Imam Ahmad berkata, “Betul demikian.” Ada pula yang mengatakan, “Mengucapkan semacam tadi tidaklah dimakruhkan pada hari raya ‘ied.” Imam Ahmad mengatakan, “Iya betul sekali, tidak dimakruhkan.”

وَذَكَرَ ابْنُ عَقِيلٍ فِي تَهْنِئَةِ الْعِيدِ أَحَادِيثَ ، مِنْهَا ، أَنَّ مُحَمَّدَ بْنَ زِيَادٍ ، قَالَ : كُنْت مَعَ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ وَغَيْرِهِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَانُوا إذَا رَجَعُوا مِنْ الْعِيدِ يَقُولُ بَعْضُهُمْ لَبَعْضٍ : تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْك .وَقَالَ أَحْمَدُ : إسْنَادُ حَدِيثِ أَبِي أُمَامَةَ إسْنَادٌ جَيِّدٌ .

Ibnu ‘Aqil menceritakan beberapa hadits mengenai ucapan selamat di hari raya ‘ied. Di antara hadits tersebut adalah dari Muhammad bin Ziyad, ia berkata, “Aku pernah bersama Abu Umamah Al Bahili dan sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lainnya. Jika mereka kembali dari ‘ied (yakni shalat ‘ied,), satu sama lain di antara mereka mengucapkan, ‘Taqobbalallahu minna wa minka” Imam Ahmad mengatakan bahwa sanad riwayat Abu Umamah ini jayyid (baik).

‘Ali bin Tsabit berkata, “Aku pernah menanyakan pada Malik bin Anas sejak 35 tahun yang lalu.” Ia berkata, “Ucapan selamat semacam ini tidak dikenal di Madinah.”

Diriwayatkan dari Ahmad bahwasanya beliau berkata, “Aku tidak mendahului dalam mengucapkan selamat (hari raya) pada seorang pun. Namun jika ada yang mengucapkan selamat padaku, aku pun akan membalasnya.” Demikian berbagai nukilan riwayat sebagaimana kami kutip dari Al Mughni. (Lihat di Al Mughni, Ibnu Qudamah Al Maqdisi, Darul Fikr, cetakan pertama, 1405, 2/250)

Ucapan yang umum kita jumpai “Selamat hari raya”, “Taqobbalallahu minna wa minkum” dan lainnya. Ucapan “Taqobbalallahu minna wa minkum” pun tidak dikhususkan saat Idul Fitri, ketika Idul Adha dianjurkan ucapan semacam ini sebagaimana kita dapat melihat dalam berbgaai riwayat dan penjelasan di atas.

Mohon Maaf Lahir Batin

Silaturahmi dengan Keluarga

http://jadiberita.com

Hari Raya Fitri pada bulan Syawal adalah momen yang sudah menjadi kebiasaan masyarakat kita, dan mungkin hanya ada di Indonesia. Pada Hari Raya Fitri adalah hari dimana kaum muslimin Indonesia, yaitu untuk bermaaf-maafan.

Dimulai dari sungkem (bahasa jawa, baca: berjabat tangan, cium tangan) kepada keluarga inti (ibu, ayah, dan saudara) memohon maaf dan saling mendoakan, kemudian bersilaturahim untuk saling mengunjungi dan bermaafan juga kepada sanak kerabat dan hadai taulan.

Indahnya budaya kita, meskipun tidak ada pertikaian, kaum muslimin Indonesia menjadikan momen Idul Fitri untuk saling bermaafan dan bersilaturahim.

Hal inilah yang mejadikan umat Islam di Indonesia menjadi teramat istimewa, menjujung tinggi nilai kemanusiaan dan persatuan juga untuk menjaga akhlak yang mulia. Meskipun tidak ada pertikaian, kesadaran akan khilaf dan salah (disengaja maupun tidak) selalu ada karena sebagai manusia biasa.

Satu catatan pula yang mesti diperhatikan, kita tidak boleh menjadikan Hari Raya Idul Fitri sebagai waktu khusus untuk saling maaf memaafkan. Seperti misalnya jika kita ada khilaf dan salah kepada seseorang, maka tidak boleh menunggu dan mengkhususkan hingga datangnya Hari Raya Fitri.

Karena, meminta maaf harus setiap waktu, jika ada khilaf dan salah harus bersegera untuk meminta maaf atau memberi maaf. Hari raya Idul Fitri hanyalah budaya yang diajarkan oleh para Ulama kita terdahulu untuk saling mencintai, menjaga kerukunan umat Muslim dan persatuan negara kita.

Memaknai “Minal ‘Aidin wal Faizin”

Terdapat ucapan lain yang umum kita jumpai, yakni  “Minal aidin wal faizin“, banyak orang beranggapan makna ucapan ini adalah “Mohon maaf lahir dan batin”, bukan.

Jika kata maaf dalam bahasa arab bisa dengan mengucapkan “afwan” yang artinya permintaan maaf yang tulus dan ikhlas. Jika kata “afwan” kurang bisa melegakan hati, maka bisa ditambah dengan “afwan zahir wal bathin

Makna yang sebenarnya dari kalimat “Minal aidin wal faizin” maknanya ialah “kita kembali dan meraih kemenangan”, maksudnya ialah kembali dan beruntung.

Secara lengkap, kalimatnya adalah ”Ja alanallahu wa iyyakum minal aidzin wal faidzin” yang artinya “Semoga Allah menjadikan kami dan anda sebagai orang-orang yang kembali dan beruntung”.

Jadi, “Minal aidin wal faizin” sendiri berarti dari orang-orang yang kembali dan beruntung. Dengan demikian, frase ungkapan “Minal aidin wal faizin” tidak memiliki makna sama sekali dengan ungkapan permintaan maaf atau pun bermaaf-maafan.

Jika kita pahami lagi makna ucapan ini, kemananan yang hakiki hanyalah hamba Allah yang mendapatkan ampunan dan rahmat-Nya, maksudnya setelah melewati puasa Ramadhan yang sempurna.

kia tidak boleh semerta-merta mengakui bahwa kita telah menang, namun ucapan ini hanyalah suatu ajakan untuk senantiasa kembali dan menuju kepada Allah ‘azza wajalla.

Kita harus kembali kepada ketaan yang sungguh-sungguh kepada Allah meskipun bulan Ramadhan telah berlalu. Janganlah sampai sebaliknya yaitu kembali kepada kemaksiatan, naudzubillah.

Pahamilah dan niatkan yang sebenarnya tentang ucapan ini, karena makna menang bukanlah pula kita terbebas dari Ibadah puasa dan ibadah lainnya. Namun sebenarnya, kita harus merenungi kembali, sudahkah maksimal ibadah kita di Ramadhan yang telah kita lewati?

Akankah Allah Swt menerima amalah puasa dan ibadah-ibadah lainnya di bulan suci Ramadhan? dan akankah kita berjumpa lagi dengan Ramadhan tahun depan?

Mari kita renungkan kembali, agar ucapan tak sekedar ucapan. namun benar-benar membawa kita kembali menuju ketaatan kepada Allah dan mendapatkan kemenangan sebagaimana makna dari ucapan tersebut.

Taqobbalallahu minna wa minkum. Semoga Allah menerima amalan kita dan amalan kalian.

 

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan GushaironFadli.com. Redaksi berhak menyunting atau menghapus kata-kata yang berbau narsisme, promosi, spam, pelecehan, intimidasi dan kebencian terhadap suatu golongan.

Loading Disqus Comments ...
  • Add Your Comment