Pengalaman Pendakian Gunung Lawu, Menaklukkan Puncak Tertinggi Hargo Dumilah Pertama Kali

Pemandangan Pendakian ke Gunung Lawu

Pemandangan Gunung Lawu. Via apvalentine.students.uii.ac.id

Jalur Cemoro Sewu – Aku adalah pemuda asli Magetan, bagiku terasa aneh bila belum merasakan perjalanan pendakian ke puncak lawu tertinggi. Itu hanya pendapatku. Ini adalah pengalaman pertamaku melakukan pendakian di gunung, perjalanan itu aku alami waktu masih berseragam putih abu-abu.

Sudah 4 tahun silam, sesuatu yang berkesan akan cukup menarik untuk diingat ingat kembali bukan?

Melalui pengalamanku ini ada banyak hal-hal menarik diperjalanan pendakianku, aku mendaki lewat jalur cemoro sewu – Magetan, untuk menuju puncak lawu yang tertinggi Hargo Dumilah. Penasaran dengan ceritaku? Baca sampai selesai ya

Berawal Dari Obrolan Kecil di Sekolah

Naik Gunung Bersama Teman Seperjuangan

Ilustrasi Naik Gunung Bersama Teman Seperjuangan. Via irkhamzamzuri.blogspot.com

Aku bersekolah di SMA Negeri 1 Maospati, Magetan. Orang bilang sekolahku adalah SMA terbaik di Magetan. (Sebagian orang bilang begitu). Ah kalau terbaik menurutku tidak juga, menurutku termasuk jajaran SMA terbaik lebih tepatnya. Karena yang paling baik selalu berubah-ubah tiap masanya.

Bukan itu yang jadi topik utama pembicaraan ini. Yah balik lagi, dari awal mulanya.. hehe

Masa masa SMA adalah masa masa yang sangat indah dan penuh penaklukan. Begitupun denganku juga teman temanku. Berawal dari obrolan kecil di kantin, aku dan temanku berbicara tentang impian dan penaklukan.

Obrolan kamipun berlanjut dan aku tertarik dengan list hope dalam daftar mimpi teman seperjuanganku Adhy Tri Prabowo (Adip). Adip bercerita bahwa dirinya mempunyai target-target yang ingin ia capai, dan ia tulis di dinding kamarnya. Salah satunya adalah menaklukkan puncak tertinggi Gunung Lawu.

Aku rasa, rasa ketertarikan yang kuat dari diriku muncul. Aku dan kawanku Adip belum pernah sekalipun mendaki Gunung, dari persamaan rasa dan keinginan yang kuat ini kami pun mencari teman yang bisa diajak untuk melakukan pendakian.

Obrolan itu berlanjut, di kelas hingga di emperan masjid sekolah. Dan akhirnya partner pendakian satu persatu kami temui. Ada teman kami yang cukup kawakan dalam melakukan pendakian ke puncak Gunung Lawu. Namanya Tri Setyoko (Trioko), dan satu lagi Danang Kusuma Wijaya (Kiwil).

Persiapan Pendakian ke Gunung Lawu

Peralatan persiapan mendaki gunung

Peralatan persiapan mendaki gunung. Via i.imgur.com

Setelah beberapa hari berlalu, tepatnya 29-06-2012 inisiatif pendakian gunung tidak hanya sekedar wacana. Danang Kiwil yang mengawalinya, mengumpulkan kami semua untuk melakukan pendakian ke puncak tertinggi Gunung Lawu yang telah disampaikan kepadaku dan teman-teman di hari sebelumnya.

Kami mendaki pada saat musin kemarau, dengan analisa sebelumnya untuk memastikan cuaca baik serta memadai untuk dilakukan pendakian.

Waktu itu adalah hari jumat di sore hari, habis ashar kami berkumpul di rumah Danang di Desa Sempol, Maospati. Sampai kurang lebih jam 5 sore tim pendakian sudah berkumpul semua, akhirnya tim kami yang siap berangkat berjumlah 6 orang.

Ada dua orang yang kami percaya untuk memimpin dalam pendakian kali ini karena pengalaman dan jam terbangnya yang cukup tinggi dalam melakukan pendakian Gunung Lawu.

Yang menjadi leader dalam pertualangan kali ini adalah Danang, Danang dalam perjalanan berada di paling belakang untuk mengawasi kami semua. Lalu yang memimpin di depan adalah Trioko sebagai penunjuk jalan.

4 lainnya adalah Aga, Aris, Adip dan Aku sendiri. Aga adalah teman main Danang, dan Aris adalah sepupu dari Trioko. Kebetulan kami baru berkenalan dirumahnya Danang sebelum pendakian.

Sebelum berangkat prepare untuk perlengkapan-perlengkapan pendakian kami siapkan dan kami cek ulang, mulai dari perlengkapan safety pribadi seperti sepatu, jaket, shal, tas, lampu senter dan tentunya minuman, camilan untuk bekal kami diperjalanan. Dirasa perlengakpan itu cukup dan kami siap untuk berangkat.

Sampai di Gerbang Pendakian Jalur Cemoro Sewu, Magetan

Pintu gerbang jalur pendakian Cemoro Sewu, Magetan

Pintu gerbang jalur pendakian Cemoro Sewu, Magetan. Via tulisanwardhani.blogspot.com

Dari rumah Danang di Maospati, kami berangkat menunuju Pos Pendakian Jalur Cemoro Sewu. Kami menempuh perjalanan menggunakan sepeda motor.

Aku berboncengan dengan kawanku Adip. Suasana gelap diperjalanan kami lalui ditambah udara terasa cukup dingin hinggan menembus jaket dan terasa sampai kulit bagian dalam.

Jalanan tidak begitu ramai masih ada satu dua kendaraan yang melewati Jalan Tembus yang menghubungkan Jawa Timur dan Jawa Tengah di area Gunung Lawu. Kami berangkat dari Maospati sekitar jam 5 sore dan sampai di Cemoro Sewu sekitar jam 6, kurang lebih sejam perjalanan.

Oke, sesampai di Cemoro Sewu kami menitipkan sepeda motor di rumah warga setempat. Kami melaksanakan sholat Magrib dulu, kemudian menunda keberangkatan hingga sampai jam 8 malam, menunggu waktu sholat Isya.

Kami mempersiapkan diri kembali, mengisi energi dengan makan malam di tempat makan Cemoro Sewu. Yaa.. ada yang pesan nasi pecel, nasi goreng dan mie rebus, dengan pelengkap minuman teh hangat. Masih ingat waktu itu aku makan nasi pecel, harganya sekitar Rp 5000-an hehehe

Waktu isyapun kami lewati, energi juga sudah terisi. Sebelum masuk kedalam pintu gerbang pendakian, kami melakukan registrasi pendakian di pos depan Cemoro Sewu dan dikenakan biaya retribusi sebesar 5000 rupiah.

Tepat pukul 20.30 kami berkumpul di depan gerbang masuk Cemoro Sewu. Kami semua berdoa sebelum melakukan pendakian dipimpin oleh Trioko.

Atur formasi, dan lampu senter sudah berada di genggaman.. Siaap Berangkaaattt!!

Perjuangan, Petualangan Sebenarnya Kami Mulai. Bukit Demi Bukit Kami Lewati

Jalur Pendakian Cemoro Sewu

Jalur Pendakian Cemoro Sewu. Via pecintalam.org

Perjalanan kami dengan formasi sesuai yang telah kami atur, Trioko berada di barisan paling depan sebagai penunjuk jalan, Danang berada di paling bealakang menjaga dan mengawasi kami semua. Dan aku berada ditengan buat cari amannya 😀

Sekitar 30 menit awal dari gerbang masuk pendakian, kami disajikan suasana malam hutan pohon pinus. Di perjalanan awal, tidak hanya pohon pinus saja yang kami temui, ada pohon pohon cemara namun jumlahnya kalah banyak dari pohon pinus.

Di sekitar hutan pinus jalan yang kami lewati tidak begitu curam, ya masih naik turun biasa. Setelah hutan pinus kami lewati, kami menemui ladang terbuka. Ternyata terdapat perkebunan sayur-sayuran di tengah hutan dengan ketinggian diatas 2500 mdpl lebih. Tanaman sayur-sayuran yang kami temui seperti sawi, kubis, wortel, dan masih banyak lagi.

Ladang terbuka dan tanaman sayur-sayuran kami temui saat perjalanan munuju pos 1. Dalam pendakian menuju puncak tertinggi Gunung Lawu, Hargo Dumilah. Kami harus menempuh 5 pos untuk jalur Cemoro Sewu.

Setelah sekitar satu jam perjalanan terlewati, aku mulai merasakan pegal di kaki dan pinggan, serta nafas yang sudah mulai terengah-engah.

Teman-temanku memberiku semangat dan berkata ini baru awal, belum apa-apa. Aku dan teman-temanku terus berucap zikir di dalam hari sepanjang perjalanan. Demi keselamatan kami dan menguatakan hati untuk terus melangkah setapak demi setapak.

Sampai di pos 1 kami istirahat sejenak, minum air, makan camilan bekal kami. Setelah sekitar 15 menit kami beristirahat kami melanjutkan perjalanan menuju pos 2.

Dalam perjalanan pos 1 ke pos 2. Kami menemui suara gemuruh air, Kata temanku suara gemuruh air tersebut adalah belerang yang keluar dari dalam tanah. Memang tidak kami termui sumber belerang tersebut, namun aroma belerang tercium yang cukup menyengat hidung kami.

Sampai di pos 2, kami beristirahat sejenak kembali. Di pos 2 terdapat bangunan yang memiliki atap, banyak juga pendaki yang sedang beristirahat disana sambil memasak mie instant dan membuat kopi. Namun kami tidak membawa perlengkapan masak, karena sudah membawa roti kering roti untuk bekal.

Di Perjalanan Kami Bertemu Bule Dari India, Mendaki Seorang Diri

Naik Gunung Sendirian

Image via www.pexels.com

Pos 2 ke pos 3 adalah perjalanan yang palik berat menurutku, jarak yang kami lalui paling jauh dan cukup curam. Namun jalan di jalur pendakian cemoro sewu cukup mudah di pahami, jalan pendakian ditandai dengan tersusunnya batu-batu besar seacara rapi.

Jalan pendakian berupa tangga yang tersusun dari batu-batu yang besar. Jarak antar tanggapun cukup tinggi sekitar 30 – 40 cm, jadi kami harus membuka lebar jangkah kaki kami untuk menaiki tangga-tangga perjalanan.

Ditengah perjalanan aku bersama timku bertemu pendaki seorang diri dan hanya berbekal tas kecil, air mineral botol 600 ml. Ini gila, mendaki seorang diri dengan bekal yang minim dan tanpa ditemani guide.

Lalu kami mengajaknya begabung bersama kami. Di sela – sela peristirahatan kami berkenalan dengan pendaki tersebut. Dia adalah warga negara asli India yang waktu itu sedang menempuh kuliah di Singapura.

Namanya adalah Mubarak Akhber, dan sekarang kami sudah berteman di akun media sosial Facebook. Mubarak mengusai Bahasa India, Bahasa Inggris, dan Bahasa Indonesia. Dengan begitu kami mudah berkomunikasi dengan Mubarak karena bisa berbicara dengan Bahasa Indonesia hehehe

Kebetulan Mubarak sedang liburan di Indonesia dan memilih Gunung Lawu untuk ia taklukkan. Ceritanya setelah Gunung Lawu, Mubarak akan mendaki lagi di Gunung Semeru, di akan menemui temannya di Surabaya terlebih dahulu.

Dan akhirnya tim kami jadi ber-7, kami dan Mubarak akhirnya bersama-sama menuju puncak teringgi Gunung Lawu yang bernama Hargo Dumilah.

Setelah 6 jam lebih perjalanan melakukan pendakian, akhirnya kami sampai juga di pos 3. Perjalanan pos 2 menuju pos 3 kami tempuh selama 4 jam lebih.

Perjananan Menuju Pos 4, Sudah Sangat Kelelahan

Perjalanan ke pos 4 jalur Cemoro Sewu

Perjalanan ke pos 4 jalur Cemoro Sewu. Via ardiyanta.com

Perjananan dari pos 3 menuju pos 4 tidak sejauh pos sebelumnya, namun tanjakan yang kami lalui cukup tajam. Tidak hanya kaki yang melangkah, beberapa kali aku harus merangkak untuk menaiki tangga.

Di perjalanan dari pos 3 ke pos 4 ini aku merasa sangat kelelahan, tim kami berulang kali berhenti karena beberapa dari kami sering kelelahan secara bergantian. Pada saat seperti ini kekompakan dan ego yang sebenarnya dari seorang teman akan terlihat haha 😀

Bagaimanapun juga, kami harus saling membantu dan menguatkan satu sama lain. Yang paling lemah dalam perjalanan ini bisa dibilang aku, aku berulang kali di bantu temanku dalam menaiki tangga di perjalanan pos 3 menuju pos 4. Kaki kram pun berkali-kali aku rasakan.

Maklum, masih pemula hehehe. Dan Adip, dia juga tampak lemahnya tak berbeda jauh denganku hahaha

Aku senang sekali ketika Adip meminta yang lainnya untuk berhenti beristirahat, ya tentunya aku diuntungkan bisa ikut berhenti sejenak menata ulang otot-otot kaki yang kram. Dan ternyata Adip pun berfikiran sama sepertiku, ketika selesai mendaki dia juga berkata dia merasa senang saat aku meminta yang lainnya berhenti sejenak untuk istirahat hahaha.

Ketulusan teman-temanku terlihat, dan aku senang sekali. Kami tetap saling memberi semangat dan me-support satu sama lain, kami saling membantu bergandengan tangan untuk menaiki satu-persatu tangga bebatuan.

Aku terus memanjatkan doa dan zikir untuk menenangkan hati dan menguatkan jiwaku. Serta terus memberi afirmasi-afirmasi untuk memberi sugesti dan kekuatan untuk terus kuat dan bersemangat.

Sampai di Pos 4, Ternyata Sudah Dekat

Pos 4 Jalur Cemoro Sewu Gunung Lawu

Pos 4 Jalur Cemoro Sewu Gunung Lawu. Via manusialembah.blogspot.com

Akhirnya pos 4 kami capai, pos 4 cukup kecil dari pos-pos sebelumnya dan berada di dekat jurang. Kami sampai di pos 4 sekitar jam 2 malam, suhu udara terasa sangat dingin sampai kepalan tanganku mati rasa. Perkiraanku suhu di sana waktu itu di bawah 10 derajat celcius.

Tidak hanya suhu yang dingin, tekanan oksigen mulai benar-benar menipis. Kami mulai mengenakan penghangat hidup (koyo) untuk meringankan tarikan nafas kami.

Karena terlalu lelah dan terasa berat untuk bernafas, aku tergeletak cukup lama dan hampir tidak bisa bangun lagi. Yah hanya bisa berdoa dan berusaha mengumpulkan energi kembali.

Dalam keadaan seperti inilah teman-teman kita yang berpengalaman, yang lebih kuat sangat membantu. Jadi sangat berbahaya kalau mendaki gunung masih awan semua, setidaknya ada dua orang yang sudah berpengalaman untuk diajak melakukan pendakian.

Aku fikir perjalanan menuju pos 5 akan jauh lebih berat dari pos 4. Setelah di beri tahu temanku, bahwa setelah ini akan lebih ringan.

Dan terbukti, setelah melalui jalanan yang cukup curam. Jalanan dari pos 4 menuju pos 5 tidak se-ekstrim jalanan dari pos sebelumnya. Jalan yang kami lalui ternyata lebih banyak datarnya, tanjakan yang kami temui di perjalanan ke pos 5 tidak terlalu curam.

Akupun sudah mulai stabil untuk melangkah lagi. Meskipun ringan, jalan yang kami lewati cukup kecil berada di pinggiran tebing, samping kami adalah jurang yang cukup dalam. Kami harus ekstra berhati-hati agar tidak terpeleset jatuh ke jurang.

Warung Tertinggi di Jawa, dan Sumber Air Sendang Drajat

Matahari terbit di dekat Sendang Drajat. Dok. Pribadi

Matahari terbit di dekat Sendang Drajat. Dok. Pribadi

Kami sampai di pos 5 sekitar jam 4 pagi. Di pos lima terdapat sumber mata air yang disebut Sendang Drajat. Di dekat sendang Drajat terdapat warung makan yang menjual nasi pecel, mie instan, teh dan kopi, susu, dan camilan. Pos 5 berada di ketinggan sekitar 3000 mdpl.

Banyak para pendaki lainnya yang mendirikan tenda di pos 5. Kami memutuskan untuk beristirahat menghabiskan sisa malam dan menyambut matahari terbit. Kami tidur di depan warung karena hebatnya kami mendaki tidak membawa tenda dan perlengkapan tidur.

Hanya berselimut jaket dan beralaskan mantel kami bisa tertidur nyenyak.

Sekiar pukul setengah 6 pagi, kami beranjak dari tempat tidur menuju pinggiran tebing untuk menikmati matahari terbit. Sungguh indah dan menghangatkan badan.

Kami juga menemui burung jalak khas Gunung Lawu, orang-orang biasa menamainya Jalak Lawu. Jalak Lawu berterbangan dan hinggap di dekat kami. Sayangnya aku tidak mengabadikan dengan foto pemandangan Jalak Lawu tersebut.

Setelah itu kami kembali ke warung untuk makan pagi. Disana aku memesan teh panas, teh panas yang mendidih aku minum namun bibirku tidak terasa panas. Ya kemungkinan karena tekanan udara yang cukup rendah menjadikan titik didih air tidak sampai 60 derajat celcius.

Setelah dirasa cukup beristirahat, melanjutkan perjalanan menuju puncak tertinggi Hargo Dumilah. Puncak Hargo Dumilah sudah bisa terlihat dari pos 5, kurang lebih butuh waktu 30 menit untuk sampai di puncak.

Munuju Hargo Dumilah, Puncak Tertinggi Gunung Lawu

Perjalanan menuju puncak tertinggi Hargo Dumilah

Bunga Adelweis diperjalanan menuju puncak tertinggi Hargo Dumilah. Dok. Pribadi

Di perjalanan menuju puncak Hargo Dumilah kami menemui padang sabana diatas ketinggian 3000 mdpl, pemandangan hijau yang indah dari pohon dan bunga-bunga tanaman penggunungan.

Kami jarang menemui pohon yang menjulang tinggi diatas sana, yang ada hanya pemandangan rumput hijau dan pohon-pohon ilalang yang indah. Dan pemandangan angkasa yang biru dan menyegarkan mata.

Dalam perjalanan, kami menemui tanaman bungan Adelweis yang dilindungi. Dan beruntungnya kami bisa melihat bunga Adelweis yang sudah berbungan, tampak masih kuncup, karena Adelweis biasa mekar pada bulan Agustus.
Setelah kami merangkak dalam perjalanan di antara pohon-pohon ilalang yang indah, akhirnya kami sampai dipuncak tertinggi Hargo Dumilah, Gunung Lawu.

Aku berada di ketinggian 3265 mdpl, dari ketinggian tersebut aku bisa melihat indahnya bukit-bukit Gunung Lawu, Pemandangan daratan Kabupaten Magetan hingga Pegunungan Wilis wilayah Madiun, Waduk Gajah Mungkur dan Pantai Selatan. Di bagian barat juga terlihat Gunung Merapi dan Gunung Merbabu.

Yey!! Akhirnya, puncak tertinggi lawu berhasil aku taklukkan. Alhamdulillah. Setelah sekitar 2 jam menikmati pesona puncak lawu tertinggi Hargo Dumilah, kami kembali pulang melalui jalur cemoro sewu. Perjalanan pulang ditempuh kurang lebih 6 sampai hingga kami sampai kembali ke gerbang pendakian cemoro sewu.

Sekian pengalamanku pribadi bersama teman-teman sekolahku. Semoga bisa memberikan inspirasi, informasi dan ada hikmah yang bisa kita ambil. Salam 🙂

Berikut  Foto-foto Dokumentasi Pribadi.

Perjalanan menuju puncak tertinggi Hargo Dumilah

Bunga Adelweis diperjalanan menuju puncak tertinggi Hargo Dumilah. Dok. Pribadi

pemanadangan gunung lawu dijalur pendakian cemoro sewu

Pemanadangan Gunung Lawu dijalur pendakian Cemoro Sewu

pemandangan sabana puncak gunung lawu

Pemandangan Sabana Puncak Gunung Lawu

Warung Tertinggi di Gunung Lawu

Foto Adip (kiri), Trioko (tengah), Mas Ari (kanan). Lokasi : Warung Tertinggi di Gunung Lawu

Sendang Drajat

Sendang Drajat

Puncak Lawu Hargo Dumilah

Puncak Lawu Hargo Dumilah

di Warung Makan

Di warung makan sebelum pendakian dimulai (Gerbang Masuk Cemoro Sewu)

Kang Mubarak Akhber

Kang Mubarak Akhber

Mas Kiwil pas suasana matahari terbit. Lok. dekat Sendang Drajat pos 5

Mas Kiwil pas suasana matahari terbit. Lok. dekat Sendang Drajat pos 5

Perjalanan turun gunung lawu,ketemu bunga Adelweis

Perjalanan turun gunung lawu,ketemu bunga Adelweis. Udah Siang

Turun gunung lawu jalur Cemoro Sewu

Turun gunung lawu jalur Cemoro Sewu

Aku dan Adip

Aku dan Adip

Aku di puncak tertinggi Gunung Lawu

Aku di puncak tertinggi Gunung Lawu

Note : Beberapa gambar yang aku cantumkan bukan asli dari dokumentasiku. Aku sertakan untuk membuat pembaca lebih nyaman dan ikut merasakan pengalamanku. Aku ambil dari pencariaan internet dan beserta sumbernya.

 

  • Add Your Comment