Keutamaan Silaturahmi Dalam Islam Agar Kita Senantiasa Dicintai Allah Ta’ala

keutamaan silaturahmi

Al-Quran. Image via pixabay.com

Keutamaan Silaturahmi Dalam Islam – Marilah kita menjadi hamba yang taat kepada Allah SWT, taqwa yang sebenar-benarnya taqwa menjaga hubungan baik dengan Allah SWT dan menjaga hubungan baik dengan sesama manusia, Allah SWT mencintai hamba-Nya yang taat dan menjaga tali silaturahmi.

Menyambung silaturahmi merupakan suatu amal shaleh yang penuh berkah, memberikan kepada pelakunya kebaikan di dunia dan akhirat, menjadikannya ia dicintai Allah SWT di manapun ia berada.

Menyambung silaturahmi adalah bentuk ketaatan kepada Allah SWT, serta petunjuk untuk hamba kepada Rabb-Nya supaya bertaqwa, supaya seorang hamba menyambung tali silaturahmi tatkala Allah SWT memerintahkan untuk menyambung hubungan silaturahmi,

Allah SWT berfirman:

“dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Rabbnya dan takut kepada hisab yang buruk” (QS. Ar-Ra’d :21)

Silaturahmi sebagai wujud keimanan, dan menjaganya adalah wujud ketaqwaan kepada Allah, seperti kata Nabi SAW;

dari Abu Hurairah ra ia berkata: Rasulullah saw bersabda:

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia memuliakan tamunya, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maha hendaklah ia menyambung hubungan silaturahmi”

Sungguh indah kehidupan ini jika kita memuliakan Allah SWT dan memuliakan sesama umat manusia, nikmat yang luar biasa bisa kita peroleh dengan menjalin ikatan silaturahmi. Semoga Allah memberi berkah kepada kita semua yang menjalin tali silaturahmi.

Silaturahmi yang Paling Utama

menjaga silatuhami yang paling utama dengan keluarga dan kerabat

Image via jadiberita.com

Silaturahmi yang paling utama adalah kepada kedua orang tua kita terlebih dahulu, kemudian kakak dan asuk kandung, saudara sepupu, ipar dan juga saudara-saudara yang masih ada garis keturunan yang sama (nasab).

Seperti hadits yang di riwayatkan oleh Bukhari dan Muslim,

Dari Abu Hurairah, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Siapa yang suka dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah dia menyambung silaturrahmi.” (HR. Bukhari No. 5985 dan Muslim No. 2557)

Dalam hadits tersebut menurut penjelasan Ibnu Hajar dalam Al Fath, yaitu “Silaturahmi dimaksudkan untuk kerabat, yaitu yang punya hubungan nasab, baik saling mewarisi ataukah tidak, begitu pula masih ada hubungan mahrom ataukah tidak.”

Maksud dari penjelasan Ibnu Hajar tersebut adalah yang harus kita utamakan adalah keluarga terdekat terlebih dahulu kita menjaga hubungan baik, terutama kepada kepada kedua orang tua yang masih hidup, barulah kepada kerabat-kerabat lain yang masih memiliki hubungan nasab, dan barulah kepada guru, ke tetangga dan teman-teman kita.

Silaturahmi yang Sesungguhnya

keutamaan menjaga silaturahmi

Image via pixabay.com

Silaturahmi yang sesunggunya adalah silaturahmi batiniah, saling rindu saling mencintai hanya karena Allah Ta’ala. Urusan lahiriah adalah pelengkapnya. Yang paling pertama adalah silaturahmi batiniah, sebagai manifestasi dari silaturahmi batiniah adalah senang mendoakan kebaikan untuk saudara-saudara kita.

Seperti yang sering kita denagr pada bulan syawal ( saat lebaran), banyak ungkapan saling meminta maaf dari saudara-saudara muslim “mohon maaf lahir & batin”, hingga doa-doa yang mulia untuk kebaikan saudara-saudara muslim.

Doa yang sering terucap yaitu; “Taqabbalallahu minna waminkum, shiyamana wa shiyamakum” yang artinya “semoga Allah menerima amalan saya dan kamu, amalan puasa saya dan kamu”. Masya Allah sungguh indah hubungan silaturahmi yang saling doa-mendokan kebaikan kepada Allah SWT.

Dan juga doa yang lainnya adalah keburuntungan dan agar kita kembali ke fitrah setelah bulan Ramadhan yang sering kita dengar seperti ini, ”Ja alanallahu wa iyyakum minal aidzin wal faidzin” yang artinya “semoga Allah menjadikan kami dan anda sebagai orang-orang yang kembali dan beruntung”.

Perlu kita ketahui, bahwasannya istilah-isltilah diatas adalah doa untuk kebaikan saudara muslim, bukan berarti ungkapan maaf. Ungkapan maafnya adalah yang bahasa Indonesia yaitu “mohon maaf lahir & batin”. Dari dalam hati niatkan batiniah dahulu, baru secara lahiriah, meskipun dalam pengucapan sering kali meminta maaf lahir baru batin. Silaturahmi batiniah adalah dari niat kita.

Setelah silaturahmi batiniah karena Allah SWT, kemudian silaturahmi lahirian dengan saling kunjung mengungjungi, saling sapa menyapa dan saling ingat-mengingat kepada Allah SWT.

Silaturahmi Bisa Menjadi Berkah dan Juga Bencana

berdoa memohon ampunan kepada Allah

Image via hidayatullah.com

Perlu kita perhatikan, silaturahmi bisa menjadi berkah yang indah dari Allah SWT, bisa juga menjadikan murka Allah SWT kepada seorang hamba.

Silaturahmi bisa menjadi tidak bebebuah berkah, ketika kita menjalin hubungan baik kepada teman, tetangga, dan lainnya yang bisa dibilang tidak ada hubungan nasab, namun hubungan baik dengan keluarga sendiri tidak harmonis, apalagi hubungan kepada kedua orang tua. Sungguh Allah membenci yang seperti ini.

Silaturahmi dengan keluarga, yang hakikinya adalah saling rindu saling menyapa karena Allah SWT. Jikalau silaturahmi dalam hubungan keluarga dan kerabat hanya untuk kepentingan lahirian, hal itu kurang tepat.

Misalkan silaturahmi yang untuk menjalankan tradisi seperti di bulan (Syawal) dan hal itu karena rasa sungkan kepada manusia, adanya rasa balas jasa, sebenarnya itu bukan termasuk dari hakikat silaturahmi yang sesungguhnya.

Yang bisa menjadikan Allah tidak ridho ialah, jika silaturahmi dilakukan dan masih didasari adanya perasaan iri dalam hati, dengki, menggunjing antar kerabat ketika berkumpul silaturahmi. Tumbuh penyakit hati jika melihat kerabat tampak lebih mampu, iri urusan duniawi seperti ia mengenakkan pakaian baru misalnya, dan iri-dengki lainnya.

Ketika salah satu anggota keluarga tidak berkumpul, dan menjadi bahan perbincangan yang tidak baik. Sungguh disayangkan pahala puasa Ramadhan seseorang.

Terlebih, perlu kita ketahui, ada batasan-batsan dan aturan-aturan dalam silaturahmi. Silaturahmi memang menjalin hubungan untuk saling sapa, hal ini hanya untuk dalam hal kebaikan, bertemu dan berkumpul untuk hal-hal yang baik dan saling ingat-mengingat kepada Allah SWT.

Silaturahmi bisa menjadikan murka Allah SWT ialah, jikalau silaturahmi diniatkan untuk berkumpul untuk melakukan hal-hal yang tidak baik seperti kemaksiatan dan perbuatan-perbutan tercela yang menjauhkan diri kepada Allah SWT. Misalkan, silaturahmi dengan teman untuk berpesta, mabuk-mabukan di tempat yang tercela, hingga perzinaan. Naudubillah.

Semoga kita semua selalu dijaga Allah,  semoga kita senantisa bersilaturahmi karena Allah, karena seorang hamba yang saling mencintai karena Allah SWT. Sungguh Allah sangat mencintai hamba-hamba tersebut.

Larangan Memutus Silaturahmi

larangan memutus silaturahmi

Image via theconversation.com

Imam Muslim dan Imam Ahmad rahimahumallah meriwayatkan dari Abu Hurairah ra, ia berkata: Seorang laki-laki datang kepada Nabi saw seraya berkata: Ya Rasulullah, sesungguhnya aku memiliki kerabat yang terus kusambung hubungan dengan mereka sedangkan mereka memutuskannya, aku berbuat baik kepada mereka dan mereka berbuat jahat kepadaku, serta mereka bersikap bodoh kepadaku sedangkan aku selalu bersikap santun kepada mereka, Beliau bersabda:

“Jika engkau benar-benar seperti yang engkau katakan, maka seolah-olah engkau menaburkan bara panas di wajah mereka, dan senantiasa kemenangan dari Allah SWT menyertaimu terhadap mereka, selama engkau tetap seperti itu.” (HR Muslim)

Meskipun ada kerabat, teman dan orang lain yang memutuskan tali silaturahmi kepada kita. Hendaknya kita tetap besikap baik dan mendoakkannya.

Dan dari ‘Uqbah bin ‘Amir ra aku berkata: Ya Rasulullah, ceritakanlah kepadaku tentang amalan yang utama, maka beliau bersabda:

“Sambunglah orang yang memutuskan (hubungan dengan)mu, berilah kepada orang yang tidak memberi kepadamu, dan berpalinglah dari orang yang berbuat zalim kepadamu” (HR Ahmad)

Silaturahmi adalah engkau memaafkan kesalahan orang lain, dan menutupi kekeliruan. Tiada akal sehat, keutamaan, dan kecerdasan kecuali engkau menyambung tali silaturahmi kepada orang yang telah memutuskan, memberi kepada orang yang tidak pernah memberi kepadamu, memaafkan kepada orang yang berbuat zalim kepadamu, dan bersikap santun kepada yang bodoh terhadapmu.

Sungguh Memutus Silaturahmi Adalah Dosa Besar

Sesungguhnya memutuskan tali silaturahmi merupakan dosa besar yang Allah memberikan ancaman kepada pelakunya dengan berbagai siksaan dan hukuman, baik di dunia maupun di akhirat. Bagaimana tidak, padahal Rasulullah telah bersabda:

“Rahim bergantung di Arys seraya berkata: Barangsiapa yang menyambung hubunganku niscaya Allah swtmenyambungnya, dan barangsiapa yang memutuskan aku niscaya Allah swt memutuskan hubungan dengannya” (HR Bukhari dan Muslim)

Maka orang yang memutuskan tali silaturahmi terputus dari Allah SWT, dan siapa yang Allah SWT putuskan hubungan dengannya, maka kebaikan apakah yang bisa diharapkannya, dan keburukan apakah yang ia bisa aman darinya, baik di dunia maupun di akhirat selama ia masih memutuskan tali silaturahmi? Dari Abu Bakrah radari Nabi saw beliau bersabda:

“Tidak ada dosa yang Allah swt lebih percepat siksaan kepada pelakunya di dunia, serta yang tersimpan untuknya di akhirat selain perbuatan zalim dan memutuskan tali silaturahmi” (HR Tirmidzi)

Kerugian orang yang memutuskan hubungan tali silaturahmi,hidup seseorang tidak mendapat berkah dari Allah SWT, bahwasanya orang yang memutuskan silaturahmi membawa dirinya untuk tidak dikabulkan doanya.

Diriwayatkan bahwa Ibnu Mas’ud ra pada suatu hari duduk setelah Subuh dalam sebuah halqah, lalu berkata: Aku meminta kepada orang yang memutuskan silaturahmi agar berdiri meninggalkan kami, karena kami ingin berdoa kepada Rabb dan bahwasanya pintu langit akan tertutup dikarenakan oleh orang yang memutuskan silaturahmi.

Maka janganlah engkau membawa dirimu, wahai miskin, sehingga doamu ditolak tatkala berdoa kepada Allah saw. Orang yang memutuskan tali silaturahmi juga membuat sial masyarakat yang dia tinggal padanya, dari Abdullah bin Abi Aufa ra, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah saw bersabda:

“Rahmat tidak akan turun kepada kaum yang padanya terdapat orang yang memutuskan tali silaturahmi” (HR Muslim)

Dan orang yang memutuskan tali silaturahmi terancam tidak bisa masuk surga, dari Abu Muhammad Jubair bin Muth’im ra, dari Nabi saw beliau bersabda:

“Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan (silaturahmi)” (HR Bukhari dan Muslim)

Menjaga Silaturahmi

cara menjaga silaturahmi

Image via dream.co.id

Silaturahmi sebaiknya tidak hanya dilakukan di bulan Syawal selesai Ramadhan, di bulan syawal adalah yang akbar. Sebaiknya silaturahmi tetap kita jalin pada hari-hari biasanya. Siturahmi bisa kita lakukan seminggu sekali untuk keluarga dekat, saling memberi kabar dan membantu kerabat.

Untuk sahabat jauh bisa menggunakan teknologi jaman sekarang seperti internet. Sebaiknya kita luangkan waktu senang yang kita khususkan / kita agendakan khusus untuk bersilaturahmi, kepada kerabat-kerabat, kepada guru-guru kita dan juga kepada teman-teman kita.

Hikmah Menjaga Silaturahmi

niat adalah dasar dari segala amal perbuatan

Image via gushaironfadli.tumblr.com

Diantara hikmah menjaga silaturahmi diantaranya

  1. Menjadikan seorang hamba lebih dekat dengan Allah SWT dan dicintai Allah SWT, hati akan terasa tanang, damai dan tentram.
  2. Insha Allah meluaskan rezeki, dari sisi psikologis hidup tentram akan menjadikan jiwa menjadi lebih sehat, Insha Allah jika Allah berkendak umur kita akan diopanjangkan. Allah SWT maha kuasa atas segala sesuatu.
  3. Di senangi para malaikat, karena malaikat juga senang bersilaturahmi.
  4. Di benci shaiton, mereka akan lebih sulit untuk menyesatkan kita, karena kita menjadi lebih dekat dengan Allah SWT. Sesungguhnya shaiton adalah musuh yang nyata bagi manusia. Teruslah mendekat kepada Allah SWT agar kita selalu terlindungi dari gangguan aduwumubin tersebut.
  5. Lebih mudah hidup dimasyarakat, di senangi manusia dan bisa memupuk rasa cinta kasih dan rasa peduli antar sesama manusia.
  6. Terbentukanya ukhuwah Islamiah yang insha Allah penuh berkah dan sama-sama mendapat rahmati Allah SWT.

Semoga pembahasan kali penuh penuh berkah dan manfaat, bagi penulis dan pembaca sekalian, Sekian.

Bagikan ya agar menjadi amal jariyah buat kita semua. Aamiin 🙂

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan GushaironFadli.com. Redaksi berhak menyunting atau menghapus kata-kata yang berbau narsisme, promosi, spam, pelecehan, intimidasi dan kebencian terhadap suatu golongan.

Loading Disqus Comments ...
  • Add Your Comment