Kematian Itu Pasti, Semoga Kita Mati dalam Keadaan yang Indah dalam Rahmat Allah SWT

7 min read

Indahnya Kemarin bagi Orang Yang Bertaqwa
Indahnya Kemarin bagi Orang Yang Bertaqwa
Image via pixabay.com

Kematian Dalam Islam – Perasaan takut akan kematian pasti ada di setiap diri manusia, karena merupakan bagian dari penciptaan-Nya.

Allah Subhaanahu wata’ala berfirman, yang artinya;

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar,” (Q.S. Al Baqarah : 155).

Rasa takut akan kematian bisa berupa nikmat dan juga bisa berupa hal yang menjadikan seseorang menjadi terpuruk. Sejatinya rasa takut mati adalah peringatan agar manusia selalu mengingat Allah.

Apabila perasaan takut kepada kematian mampu menjadi pemacu untuk lebih baik dan menjadi energi untuk menjauhkan diri dari kemaksiatan. Banyak mengingat mati adalah suatu kebaikan, Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan;

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan”, yaitu kematian”. (HR. Tirmidzi).

Hadits ini me-isyaratkan bahwa dalam penyikapan tertentu takut mati memiliki banyak sekali hikmah. Namun takut mati menjadi sangat buruk apabila membawamu pada sikap tidak mau peduli, tidak ada semangat hidup hingga membuat putus asa.

Takut mati seperti hal buruk tersebut harus disembuhkan dengan cara memupuk kesadaran bahwamati itu adalah perkara yang pasti terjadi, baik cepat ataupun lambat. Sebaiknya kita tidak perlu menjadikan perasaan takut mati dan membuat pikiran menjadi terpuruk, sebab mati pasti akan kita alami.

Yang harus kita takuti, adalah bagimana jika Allah sampai tidak mencintai kita.

1. Mengingat Kematian

senantiasa berintropeksi diri dan bertaubat kepada Allah SWT
Image via wajibshare.com

Apakah setiap saat kita senantiasa mengingat akan kematian? Semua yang bernyawa pasti akan mati dan kehidupan terus berjalan, secara sadar atau tidak kematian akan semakin dekat menghampiri. Harus kita sadari bahwa sebenarnya hari-hari yang kita lewati semakin mendekatkan kita kepada kematian.

Dalam surah Al Ankabut Allah Subhaanahu wata’ala berfirman, yang artinya;

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan.” (QS. Al ‘Ankabut : 57)

Rasa takut akan datangnya kematian adalah pertanda bahwa kita juga takut kepada Allah Subhaanahu wata’ala, namun yang menjadi pertanyaan sudahkan siap bekal dunia atau pertanggung jawaban atas semua amal dunia kita?

Rasa takut akan kematian sejatinya adalah sebagai pengingat atas ketaqwaan kita, setiap manusia memang memiliki tingkatan yang berbeda. Tentunya seorang hamba Allah yang didekatkan kepada-Nya dan dicintai-Nya, ia akan merasa tenang dan siap untuk mati kapanpun menjemputnya.

Seorang yang sudah begitu dekat dengan Allah pasti memiliki kedamaian di hatinya, rindu akan berjumpa dengan kekasih hati yang hakiki, yaitu Allah Subhaanahu wata’ala.

Namun berbeda jika seorang hamba yang masih merasa belum maksimal dalam beribadah, masih sering melakukan kemaksiatan dan perbuatan-perbuatan dosa lainnya. Untuk itu, teringat akan mati sejatinya harus kita syukuri, dan semaksimal mungkin kita mendekatkan diri kepada Allah agar lebih dicintai-Nya.

Mencari ketenangan hidup di dunia dan keselamatan akhirat yaitu dengan bertaqwa kepada Allah Subhaanahu wata’ala, menjalankan semua perintah-Nya dan menjahui apa yang menjadi larangan-Nya.

Di dalam syariat telah di ajarkan tuntunan hidup yang hakiki yaitu Al-Quran dan Sunah. Al Quran adalah pedoman jalan yang lurus untuk manusia, agar manusia selalu mengingat Tuhannya. Salah satu penenang jiwa adalah mempelajari Al-Quran dan mengamalkannya di dalam kehidupan.

Menjalankan kewajiban serta semua perintah-perintah Allah dan mengikuti ajaran Rasulullah adalah wujud dari kepatuhan kita untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah Subhaanahu wata’ala, itulah manifestasi dari iman. Hakikinya, yang paling utama dari iman adalah dari hati yang sebenar-benarnya.

2. Menyikapi Kematian dalam Syariat

cara mengatasi rasa takut mati menurut islam
gushaironfadli.tumblr.com

Bersyukurlah jika kita masih teringat akan kematian, karena kematian itu adalah pasti. Jangan menjadikan rasa takutmu menjadi berlebih dan menjadikanmu putus asa. Menyikapi kematian adalah dengan semakin mendekatkan diri kepada Allah Subhaanahu wata’ala, takutlah mati dan jadikan tenang.

Seorang hamba Allah harus selalu mengingat bahwa ia sedang membawa dirinya bersama kematian, ia sedang berjalan menuju kematian, bahwa ia sedang menunggu kematian itu entah datang pagi atau petang. Sungguh indah ungkapan Ali bin Abi Thalib,

”Sesungguhnya kematian terus mendekati kita dan dunia terus meninggalkan kita. Maka jadilah kalian anak-anak akhirat dan janganlah kalian menjadi anak-anak dunia. Sesungguhnya hari ini adalah beramal dan tidak ada hisab, dan esok adalah hisab dan tidak ada lagi beramal.”

Sesungguhnya, nikmat yang paling nikmat adalah menyukuri nikmat sekecil apapun nikmat yang kita rasakan. Nikmat sehat, nikmat waktu luang dan yang paling utama adalah nikmat Iman. agar hati menjadi lebih tenang, banyaklah berdoa dan memohon ampun kepada Allah Subhaanahu wata’ala.

Berdoa untuk keselamatan duniamu dan akhiratmu, ada amalan yang memang khusus kita niatkan untuk akhirat dan juga ada untuk dunia.

Istiqomah Menjaga Amal Sholeh

bersikap tawadhu
Image via faisalchoir.blogspot.co.id

Sebab yang menjadikan seseorang selalu dihantui akan rasa takut akan kematian berlebih yang bisa menjadikan seseorang terpuruk karena jauhnya hati dari sang penerang hati, Allah Subhaanahu wata’ala. Agar rasa takut akan kematian itu bisa menghilang dan berubah menjadi rasa takut yang nikmat dan menjadikan jiwa tenang adalah taqwa.

Sebab seorang hamba dicintai Allah Subhaanahu wata’ala adalah karena katqwaan seorang hamba, ketaqwaan itu dapat dilakukan dengan menjaga amalan-amalan sholeh yang bisa mendekatkan hati, nurani dan seluruh jiwa raga dekat dengan Allah Subhaanahu wata’ala.

Firman Allah Subhaanahu wata’ala, yang artinya;

“Dan itulah surga yang dikaruniakan untuk kalian, karena perbuatan (amal sholeh) yang kalian dulu pernah kerjakan” (QS. Az-Zukhruf : 72).

Agar kita memperoleh rahmat dan cinta kasih Allah Subhaanahu wata’ala, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa. Ingatlah, tujuan yang utama bukanlah amal yang sebanyak-banyaknya, tapi adalah amalan yang sebenar-benarnya.

Amalan yang sedikit dan benar karena Allah Ta’ala akan lebih bisa mendekatkan seorang hamba kepada Allah daripada amalan yang banyak dilakukan tetapi belum benar. Jika kita merasa amalan kita belum benar, yang paling terpenting bukan beramal sebanyak-banyaknya tetapi memperbaiki amalnya, yaitu hanya untuk Allah saja.

Seperti hadits nabi Muhammad Sallallahu `alaihi wa sallam,  dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu’anhu disebutkan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam,

“Tidak ada amalan seorangpun yang bisa memasukkannya ke dalam surga, dan menyelematkannya dari neraka. Tidak juga denganku, kecuali dengan rahmat dari Allah” (HR. Muslim no. 2817).

Dengan beramalah sholeh dengan benar, insya Allah seorang hamba akan mencapai taqwa yang benar yang mendapatkan rahmat dari Allah Subhaanahu wata’ala, jadi beramal sholeh dengan niat yang benar itu sangat penting.

Amalan terbaik yang bisa dilakukan adalah menjaga sholat fardhu (5 waktu) dan menambahkan amalan-amalan sunah yang bisa kita jadikan amalan utama untuk kita amalkan.

Menjaga Sholat Fardhu (5 Waktu)

Menjaga sholat fardhu
Image via rtpabuyahamka.blogspot.co.id

Sholat 5 waktu adalah amalan wajib yang tidak boleh ditinggalkan, sholat tidak boleh kita niatkan hanya sebatas penggugur kewajiban. Sebaiknya niatkan sholat sebagai bentuk rasa syukur kita sebagai seorang hamba kepada Allah Subhaanahu wata’ala, agar senantiasa kita bersemangat dalam melaksanankan sholat.

Sholat fardhu bisa mencegah manusia dari perbuatan keji dan munkar, sepert firman Allah Subhaanahu wata’ala, yang artinya;

Bacalah Al-Kitab (al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan laksanakan shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Dan (ketahuilah) mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al Ankabut : 45)

Dengan melaksanakan sholat secara benar dan hak, maka sesungguhnya hati kita akan senantisa takut untuk melakukan kemaksiatan dan kemungkaran, karena setiap saat kita selalu mengat Allah.

Jika ada seseorang yang sholatnya rajin, tapi dia masih sering menyakiti orang lain, masih suka berbuat maksiat. Berarti ada yang keliru dengan sholatnya, sholat yang seseorang lakukan itu bukan untuk Allah Subhaanahu wata’ala.

Sholat adalah amalan utama, dan amalan pertama yang akan di hizab di hari kiamat nanti, dan sholat adalah penentu dari semua amal perbuatan hidup didunia.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya yang pertama kali di hisab dari amal seorang hamba pada hari kiamat adalah shalat. Apabila shalatnya baik maka ia telah berbahagia dan sukses, tetapi apabila shalatnya jelek maka ia telah celaka dan merugi. Dan apabila ia kurang dalam melakukan shalat wajib maka Allah akan berkata, ‘Lihatlah apakah hamba-hamba-Ku memiliki shalat sunnah?’ Lantas disempurnakanlah dengannya yang kurang dari shalat wajib itu. Kemudian yang demikian itu berlaku pula bagi seluruh amalnya.” [HR. At-Tirmidzi, No. 413]

Amalan Istimewa yang Menjadikan Allah Bangga

Amalan istimewa yang saya maksud adalah amalan yang bisa kita lakukan secara terus menerus hingga mati. Amalan yang meringankan adalah amalan yang dikerjakan sedikit dan tidak memberatkan, amalan yang sedikit tersebut jika dikerjakan secara istiqomah akan mengungguli amalan yang dikerjakan dalam jumlah banyak namun hanya sesekali.

Seperti contohnya membaca Al-Quran, dalam sekali waktu membaca Al-Quran bisa menyelesaikan 1 juz, namun hanya seminggu sekali misalnya. Masih lebih baik membaca 1 lembar ataupun 1 ayat namun dilakukan secara istiqomah hingga akhir hayat.

Meskipun begitu, bukan berarti kita selamnya mengamalkan amal kebaikan dengan porsi yang sedikit secara terus menerus. Kita tetap dianjurkan beramal secara istiqomah dan juga memperbanyaknya ketika sudah istiqomah, agar semakin mendekatkan kita kepada Allah SWT.

Amal sholeh yang insya Allah lebih tidak memberatkan untuk diamalkan misalnya, berbakti kepada ibu dan ayah, menyantuni anak yatim, meringankan beban fakir miskin, istiqomah membaca al-quran, menjaga sholat dhuha, dan masih banyak amalan-amalan lain yang banyak memiliki keutamaan. Sebaik-baiknya amal adalah amal yang dikerjakan secara istiqomah.

Sebagai renungan kita semua, selalu saja ada syaiton yang selalu menggaggu dan membisikan kita supaya meninggalkan amalan-amalan kebaikan. Sayiton pulalah yang menjadikan semua kebaikan itu menjadi terasa berat, untuk itu jangan pernah lelah untuk selalu memohon ampun dan perlindungan kepada Allah dari gangguan syaiton.

Berdoa, agar selalu bisa istiqomah dan berdoa agar amal-amal kebaikan itu bisa menjadi bagian hidup, menjadi suatu kebutuhan yang bila mana ditinggalkan hidup terasa tidak lengkap. Sungguh indahnya jika suatu amal kebaikan menyatu dalam jiwa.

3. Hikmah Selalu Mengingat Kematian

Hikmah mengingat kematian
Image via pixabay.com

Dengan mengingat mati seseorang akan menjadi mukmin yang cerdas berakal. Hadist Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam yang diriwayatkan Ibnu Majah dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Ibnu Majah seperti berikut;

”Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma bercerita: “Aku pernah bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu datang seorang lelaki dari kaum Anshar mengucapkan salam kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bertanya,

“Wahai Rasulullah, orang beriman manakah yang paling terbaik?”, beliau menjawab: “Yang paling baik akhlaknya”, orang ini bertanya lagi; “Lalu orang beriman manakah yang paling berakal (cerdas)?”, beliau menjawab; “Yang paling banyak mengingat kematian dan paling baik persiapannya setelah kematian, merekalah yang berakal”.

Seorang hamba harus selalu ingat bahwa dia sedang membawa dirinya bersama kematian, bahwa dia sedang berjalan menuju kematian, dan bahwa dia sedang menantikan kematian yang bisa menjemoutnya setiap saat, setiap waktu entah datang pagi ataupun petang. Sungguh indah ungkapan Ali bin Abi Thalib,

‘Sesungguhnya kematian terus mendekati kita, dan dunia terus meninggalkan kita. Maka jadilah kalian anak-anak akhirat dan janganlah kalian menjadi anak-anak dunia. Sesungguhnya hari ini adalah beramal dan tidak ada hisab, dan esok adalah hisab dan tidak ada lagi beramal.’

Ungkapan Ali ini mengingatkan kita bahwa manusia kita sebagai manusia harus selalu siap siaga, selalu berintropeksi diri, memperbaharui taubat, dan harus mengetahui bahwa manusia sedang berhubungan dengan Allah Subhaanahu wata’ala.

Dalam surah Al Munafiqun Allah Subhaanahu wata’ala berfirman, yang artinya;

”Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan.” [QS. Al Munafiqun : 11]

Coba kita renungkan bahwa banyak kita temui bayi yang baru saja dilahirkan didunia sudah di panggil Allah, paginya sehat sorenya sudah dipanggil Allah, dan ada juga  seseorang yang mempunyai sakit keras namun masih diberi kehidupan oleh Allah Ta ‘ala, Hanya Allah yang memiliki kuasa untuk memberikan nafas bagi kehidupan serta untuk mengambilnya.

Semua makhluk yang bernyawa akan hidup sampai batas waktu yang telah ditentukan, Allah menjelaskan di dalam Al-Quran sebagai petunjuk untuk manusia terhadap kematian dalam ayat berikut ini:

Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Al Jumu’ah : 8)

Di antara hikmah dari mengingat-ingat kematian adalah:

  1. Mendorong diri untuk selalu bersiap menghadapi kematian sebelum tiba waktunya
  2. Tidak menjadi manusia yang cinta dunia, terlalu cinta dunia adalah sebab utama kegelisahan manusia
  3. Menjauhkan diri dari angan-angan dunia yang berlebihan
  4. Selalu beramal untuk akhirat dengan terus berusaha menjadi manusia yang baik dan taqwa
  5. Meringankan seorang hamba dalam menghadapi ujian dunia
  6. Mencegah ketamakan terhadap nikmat duniawi
  7. Mendorong untuk bertaubat dan muhasabah dari kesalahan di masa lalu
  8. Memberi semangat untuk mendalami agama dan lebih terjaga dari hawa nafsu
  9. Melembutkan hati, mempunyai sikap rendah hati (tawadhu’), tidak sombong, dan berlaku zalim
  10. Menumbuhkan rasa toleransi, mudah memaafkan kesalahan dan kelemahan orang lain

Setelah seorang manusia meninggal terputuslah semua amal-amalnya di dunia, kecuali 3 perkara. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu); sedekah jariyah, ilmu yang di manfaatkan, atau doa anak yang shaleh” (HR. Muslim no. 1631)

Sedekah jariyah untuk kepentingan umat misalnya membangun masjid, membangun pesantren, ilmu yang digunakan untuk mengajarkan kebaikan yang secara turun temurun dilakukan, serta doa yang sennatiasa di panjatkan dari anak-anak yang sholeh untuk kedua orang tua yang sudah meninggal. Allah Maha Mulia atas segala sesuatu.

Tiada bekal yang akan kita bawa untuk menemani kematian kita, kecuali amalan-amalan kita semasa di dunia (entah itu bernilai dosa maupun pahala). Hanyalah amal yang menemani untuk dipertanggung jawabkan. Kematian akan begitu indah bagi seorang hamba yang dicintai Allah SWT.

Semoga artikel ini bisa menjadi cerah bagi kita semua, semoga kita semua termasuk orang-orang yang beruntung dan dicintai Allah.

Wallahu ‘alam bissawab,

0 Shares
59

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *