Amal Sholeh yang Dilakukan Dengan Istiqomah Karena Allah Ta’ala, Insya Allah Akan Menjadi Amal yang Istimewa

bersikap tawadhu

Sebab seorang hamba dicintai Allah Subhaanahu wata’ala adalah karena kataqwaan seorang hamba, ketaqwaan itu dapat dilakukan dengan menjaga amalan-amalan sholeh yang bisa mendekatkan hati, nurani dan seluruh jiwa raga dekat dengan Allah.

Firman Allah Subhaanahu wata’ala, yang artinya;

“Dan itulah surga yang dikaruniakan untuk kalian, karena perbuatan (amal shaleh) yang kalian dulu pernah kerjakan” (QS. Az-Zukhruf : 72).

Agar kita memperoleh rahmat dan cinta kasih Allah, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa. Perlu kita renungkan bersama, dalam beramal yang utama bukanlah amal yang sebanyak-banyaknya, tapi adalah amalan yang dilakukan dengan sebaik-baiknya dan dengan benar.

Amalan yang sedikit dan benar karena Allah Ta’ala akan lebih bisa mendekatkan seorang hamba kepada Allah daripada amalan yang banyak dilakukan tetapi belum benar. Jika seseorang merasa amalannya belum benar, yang paling terpenting bukan beramal sebanyak-banyaknya tetapi memperbaiki amal dengan sebaik-baiknya dan dengan benar.

Amalan yang benar hakikatnya, hanyalah beramal karena Allah saja, tidak harapan apapun dari suatu amal melainkan hanya Allah saja.

Seperti hadits nabi Muhammad Sallallahu `alaihi wa sallam,  dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu’anhu disebutkan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam,

“Tidak ada amalan seorangpun yang bisa memasukkannya ke dalam surga, dan menyelematkannya dari neraka. Tidak juga denganku, kecuali dengan rahmat dari Allah” (HR. Muslim no. 2817).

Dengan beramalah sholeh dengan benar, insya Allah seorang hamba akan mencapai taqwa yang benar yang mendapatkan rahmat dari Allah Subhaanahu wata’ala, jadi beramal sholeh itu penting.

Amalan terbaik yang bisa dilakukan adalah menjaga sholat fardhu (5 waktu) dan menambahkan amalan-amalan sunah yang bisa dijadikan amalan utama untuk diamalkan.

Menjaga Sholat Fardhu (5 Waktu)

Menjaga sholat fardhu

Image via rtpabuyahamka.blogspot.co.id

Sholat 5 waktu adalah amalan wajib yang tidak boleh ditinggalkan, sholat tidak boleh kita niatkan hanya sebatas penggugur kewajiban. Sholat bisa sebagai bentuk rasa syukur sebagai seorang hamba kepada Allah Subhaanahu wata’ala, agar senantiasa seseorang bisa bersemangat dalam melaksanankan sholat.

Sholat fardhu bisa mencegah manusia dari perbuatan keji dan munkar, sepert firman Allah Subhaanahu wata’ala, yang artinya;

Bacalah Al-Kitab (al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan laksanakan shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Dan (ketahuilah) mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al Ankabut : 45)

Dengan melaksanakan sholat secara benar dan hak, maka sesungguhnya hati akan senantisa takut untuk melakukan kemaksiatan dan kemungkaran, karena setiap saat selalu mengingat Allah karena kasihNya, dan seorang hamba anak senantiasa dirinya selalu dalam pengawasan Allah SWT.

Jika ada memang seseorang yang sholat, akan tetapi ia masih sering menyakiti orang lain, masih suka berbuat maksiat. Berarti ada yang kurang dengan sholatnya, sholat seorang hamba belum sepenuhnya untuk Allah dan perlunya untuk senantiasa memperbaiki sholat.

Sholat adalah amalan utama, dan amalan pertama yang akan di hizab di hari kiamat nanti, dan sholat adalah penentu dari semua amal perbuatan hidup didunia.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya yang pertama kali di hisab dari amal seorang hamba pada hari kiamat adalah shalat. Apabila shalatnya baik maka ia telah berbahagia dan sukses, tetapi apabila shalatnya jelek maka ia telah celaka dan merugi. Dan apabila ia kurang dalam melakukan shalat wajib maka Allah akan berkata, ‘Lihatlah apakah hamba-hamba-Ku memiliki shalat sunnah?’ Lantas disempurnakanlah dengannya yang kurang dari shalat wajib itu. Kemudian yang demikian itu berlaku pula bagi seluruh amalnya.” [HR. At-Tirmidzi, No. 413]

Memiliki Amalah Istimewa yang Dikerjakan dengan Istiqomah

Amalan istimewa yang dimaksud adalah amalan yang bisa dilakukan secara terus menerus hingga berakhirnya kehidupan di dunia ini. Amalan yang ringan yang tidak memberatkan, namun secara istiqomah, amalan yang ringan jika dikerjakan secara istiqomah akan mengungguli amalan yang dikerjakan dalam jumlah banyak namun hanya sesekali.

Seperti membaca Al-Quran, dalam sekali waktu membaca Al-Quran bisa menyelesaikan 1 juz, namun hanya seminggu sekali semisalnya. Hal ini masih lebih baik membaca 1 lembar namun dilakukan secara istiqomah sampai mati.

Amal sholeh tidak memberatkan untuk diamalkan setiap orang dan dalam keseharian, insya Allah misalnya berbakti kepada ibu dan ayah, menyantuni anak yatim, meringankan beban fakir miskin, istiqomah membaca al-quran, mejaga sholat dhuha, dan masih banyak amalan-amalan lain yang banyak memiliki keutamaan, sebaik-baiknya amal adalah amalan yang dikerjakan secara istiqomah.

Sebagai renungan kita semua, selalu saja ada syaiton yang selalu menggaggu dan membisikan kita supaya meninggalkan amalan-amalan kebaikan. Sayiton pulalah yang menjadikan semua kebaikan itu menjadi terasa berat, menjadikan timbulnya penyakit hati seperti ujub, riya’ dan takabur.

Untuk itu jangan pernah lelah untuk selalu memohon ampun dan perlindungan kepada Allah dari gangguan syaiton. Berdoa, agar selalu bisa istiqomah dan berdoa agar amal-amal kebaikan itu bisa menjadi bagian hidup, menjadi suatu kebutuhan yang bila mana ditinggalkan hidup terasa tidak lengkap. Sungguh indahnya jika suatu amal kebaikan menyatu dalam jiwa.

  • Berbakti Kepada Ibu dan Ayah

anak mencium tangan ibu

Image via mudamedia.tumblr.com

Berbakti kepada kedua orang tua adalah amal yang paling utama. Keutamaan itu di sampaikan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disepakati oleh Bukhari dan Muslim, dari sahabat Abu Abdirrahman Abdullah bin Mas ‘ud radhiyallahu ‘anhu.

Dari Abdullah bin Mas ‘ud katanya, “Aku bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang amalan-amalan yang paling utama dan dicintai Allah ? Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, Pertama shalat pada waktunya (dalam penjelasan ulama adalah shalat di awal waktunya), kedua berbakti kepada kedua orangtua, ketiga jihad di jalan Allah Subhaanahu wata’ala”.[Hadits Riwayat Bukhari I/134, Muslim No.85, Fathul Baari 2/9]

Dengan begitu jika seseorang ingin memperoleh ketenangan jiwa dan keridhaan Allah Subhaanahu wata’ala, dahulukan berbakti kepada kedua orang tua (birrul walidain) dengan tulus, penuh cinta kasih, doa sebagai tanda bakti.

Karena ridha Allah tergantung dari keridhaan orang tua, didalam hadits shahih Imam Tirmidzi,

Dari Abdillah bin Amr bin Ash Radhiyallahu ‘anhuma berkata bahwa, beliau Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ridha Allah tergantung kepada keridhaan orangtua dan murka Allah tergantung kepada kemurkaan orangtua” .[HR. Tirmidzi]

  • Menyantuni Anak Yatim

Dari Sahl bin Sa’ad radhiallahu ‘anhu dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini, kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta agak merenggangkan keduanya”. [HR Al-Bukhari (no. 4998 dan 5659)]

Hadits ini shahih menunjukkan begitu besarnya pahala dan kemuliaan bagi orang yang menyantuni anak yatim. Memuliakan anak yatim adalah perbuatan yang sangat dicintai Allah Subhaanahu wata’ala, untuk itu agar kemuliaan itu bisa didapatkan cara memuliakannya harus dengan ilmu dan karena Allah ta’ala.

Begitu juga dengan sebaliknya, jika kita bersikap aniyaya terhadap anak yatim sungguh hal tersebut dapat membuat Allah Ta’ala murka. Hal sederhana yang bisa kita lakukan adalah memberi sedekah kepada anak yatim, menghibur hatinya, memberinya hadiah, juga mengajarkannya ilmu-ilmu yang bermanfaat seperti ilmu pendidikan sekolah, ilmu olah raga dan ilmu komputer dalam permisalannya.

Semua itu diniatkan atas dasar karena rahmat Allah Subhaanahu wata’ala, hanya karena untuk akhirat kita

  • Memuliakan Anak Yatim karena Allah Ta’ala

Memuliakan anak yatim karena Allah ta’ala, saat seseorang ingin mendapatkan ridho dari Allah, semua amal kebaikan haruslah diniatkan hanya untuk Allah, untuk mendapatkan cinta dan kasih-Nya. Seperti halnya memuliakan anak yatim adalah perbuatan yang sungguh mulia dan dicintai Allah.

Hal ini bisa berlaku sebaliknya jika seandainya memuliakan anak yatim bukan karena Allah, misalknya seperti karena urusan dunia, ingin mendapat simpati orang, ingin mendapatkan citra baik karena menginginkan posisi / jabatan tertentu didunia. Sunggul hal-hal yang mengandung riya’ dan ujub dalam perkara ini sangatlah tidak baik dan bisa menjadikan Allah SWT murka terdapat seorang hamba yang demikian.

Jika seseorang memuliakan anak yatim dengan cara mengadopsi si anak tersebut, lalu merawatnya, menyekolahkannya. Tentunya anak tersebut haruslah pula dididik dalam ketaqwaan kepada Allah SWT, jangan sampai anak tersebut terjerumus dalam pergaulan yang tidak baik bahkan kesesat, hal ini juga bisa menjadikan dosa kepada seorang tersebut.

Dan perlu diperhatikan, jika seseorang belum mengerti tentang adab dan ilmu dalam memuliakan anak yatim, hal ini seseorang wajib mempunyai guru yang bisa membimbing secara langsung dalam bab menyantuni anak yatim, seperti misalnya anak yatim adalah anak yang belum balig sudah ditinggal ayahnya, dan harta untuk menyantuni anak yatim adalah harta milik pribadi, larangan tentang memakan harta anak yatim dan sebagainya.

  • Menjadi Manusia yang Bermanfaat, dan Senang Membantu Fakir Miskin

Menjadi manusia yang bermanfaat

Image via pixabay.com

Siapa yang tidak mau dicintai oleh Allah? mendapatkan cinta dari-Nya merupakan karunia yang sangat berharga dan tentu semua kaum muslimin mendambakannya. Perlu kita ketahui, ketika Allah mencintai seorang hambaNya, semua yang menjadi doa seseorang tersebut akan dikabulkan. Karena itu semua mudah bagi Allah, karena Dia Maha Kuasa apapun yang dikehendaki-Nya.

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, bagaimana agar kita dicintai oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Dahulu pernah ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah, lalu laki-laki itu bertanya; wahai Rasullullah, siapa orang yang paling dicintai oleh Allah ? Dan amalan apakah yang paling dicintai oleh Allah ? Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

“Manusia yang paling Allah cintai adalah manusia yang paling banyak bermanfaat bagi manusia lainnya.

Dan amalan yang paling dicintai Allah adalah kegembiraan yang engkau masukan kepada hati seorang muslim, atau engkau menghilangkan salah satu kesusahannya, atau engkau bayarkan hutangnya, atau engkau hilangkan kelaparannya.

Dan aku berjalan bersama saudaraku untuk memenuhi kebutuhannya, itu lebih baik aku cintai daripada ber ’itikaf di masjid Nabawi selama satu bulan lamanya.

Dan siapa yang menahan amarahnya maka Allah akan tutupi auratnya. Barangsiapa yang menahan marahnya padahal ia bisa menumpahkannya, maka Allah akan penuhi hatinya dengan keridhaan di hari kiamat.

Dan barangsiapa berjalan bersama saudaranya sampai ia memenuhi kebutuhannya, maka Allah akan mengokohkan kedua kakinya di hari ketika banyak kaki-kaki terpeleset ke api neraka.”

[HR. Ath Thabrani 6/139 dan shahihkan oleh Al Albani]

  • Istiqomah Membaca Al-Quran

Al Quran dan Sunnah sebagai pedoman hidup

Image via islampelitahidup.blogspot.com

Seperti hadits Nabi SAW, dari Aisyah radhiyallahu ’anha, mengatakan bahwa beliau Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.” Aisyah pun ketika melakukan suatu amalan selalu berkeinginan keras untuk merutinkannya. [H.R Muslim, No. 783]

Dari Aisyah, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai amalan apakah yang paling dicintai oleh Allah. Rasul Shallallahu ’alaihi wa sallam menjawab,

”Amalan yang rutin (kontinu), walaupun sedikit.”  [H.R Muslim, No. 782]

Membaca al quran dengan istiqomah tidaklah ringan untuk sebagian orang, apalagi bagi yang belum terbiasa. Namun, hal ini bisa kita niatkan dan senantiasa memohon kekuatan kepada Allah agar mampu untuk istiqomah. Tidak lupa pula senantiasa mengingat musuh kita yang sering kali tidak kita sadari, yaitu syaiton. Karena merekalah yang senantiasa membisikkan kemalasan itu untuk kita, untuk untuk kita wajib untuk selalu memohon perlindungan kepada Allah dari gangguan syaiton.

  • Menjaga sholat Dhuha

Selain rutin membaca Al-Quran, amalan lain yang menjaga sholat dhuha. Sholat dhuha keutamannya adalah sebagai pemberi sedekah untuk persendian (badan), badan secara hakikinya memebutuhkan sedekah-sedekah amalan kebaikan dari yang kita lakukan, sholat dhuha bisa menggantikannya.

Nabi shallallahu ’alaih wa sallam menjelaskan kepada ummatnya bahwa untuk bersedekah bagi setiap ruas tulang badan setiap pagi adalah cukup dengan menegakkan sholat sebanyak dua rakaat yang dikenal dengan nama Sholat Dhuha. Hadistnya seperti berikut, Nabi Shallallahu ’alaih wa sallam bersabda:

“Hendaklah masing-masing kamu bersedekah untuk setiap ruas tulang badanmu pada setiap pagi. Sebab tiap kali bacaan tasbih itu adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, menyuruh kepada yang ma ’ruf adalah sedekah, mencegah yang mungkar adalah sedekah. Dan sebagai ganti dari semua itu, maka cukuplah mengerjakan dua rakaat sholat dhuha.” [HR Muslim, No. 1181]

  • Berdzikir Setiap Waktu

Dalam setiap waktu, setap nafas bahkan dalam keadaan tidur seorang hamba dianjurkan untuk selalu mengingat Allah SWT.

Dzikir artinya mengingat Allah, tidak hanya dalam lisan tetapi juga untuk setiap perbuatan yang kita lakukan. Hadirkan Allah disetiap hembus nafas dengan berdzikir, dengan begitu hati akan menjadi tenang sebagaimana firman Allah SWT yang artinya;

“Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d, Ayat 28).

Hikmah yang bisa kita ambil.

Segala amal ibadah dan amal kebaikan itu adalah anugrah dari Allah, tanpa rahmat dan kekuatan dari Nya kita tidak akan mampu untuk menjalani itu semuas, seperti halnya keistiqomahan. Dan sungguh, Allah telah memberi ijin iblis dan para syaiton untuk mengganggu dan menyesatkan manusia.

Suatu amal ibadah akan bisa menjadi terasa begitu berat karena gangguan syaiton, amal bisa menjadi sia-sia dan tak berguna jika dilakuan karena selain Allah, seperti misalnya karena adanya penyakit dari dalam hati seperti ujub dan riya’. Penyakit hati tersebut ada karena syaiton selalu membisik keburukan kepada kita.

Untuk itu, seorang hamba haruslah selalu memohon pertolongan dan perlindungan kepada Allah dari segala macam gangguan syaiton yang menyesatkan. Senantiasa berusaha untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Semoga kita semoga selalu dilindungi Allah dari gangguan syaiton, dan semoga kita semua termasuk orang-orang yang beruntung dan dicintai Allah.

Wallahu ‘alam bissawab.

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan GushaironFadli.com. Redaksi berhak menyunting atau menghapus kata-kata yang berbau narsisme, promosi, spam, pelecehan, intimidasi dan kebencian terhadap suatu golongan.

Loading Disqus Comments ...